Ratusan Dump Truk Blokade Sukarno-Hatta, Penambang Tradisonal Kepung Kantor DPRD.


Reporter : Faiz Tamami

Editor      : M.Nugroho

Kediri | i-news.id

Untuk menanggulangi terjadinya bencana alam salah satunya adanya gerakan sadar sampah.

Dandim 0801 Pacitan Letkol Infantri Nuri Wahyudi mengatakan, untuk menanggulangi terjadinya bencana alam banjir, harus dibangkitkan kesadaran, kepedulian dan kepekaan terhadap penanggulangan Sampah. ” Aparat di wilayah itu harus memberikan contoh nyata yaitu kerja bakti membersihkan lingkungan tiap Mingguan sekali, ” katanya pada saat agenda Jumat Bersih.

Lebih lanjut Dandim 0801 itu secara detil mengungkapkan, kegiatan Jumat Bersih itu artinya komitmen hari Jum’at atau hari apa kita semua sepakat melakukan tindakan kebersihan secara rutin yang dilakukan bersama, dilingkungan kerja ataupun lingkungan desa/masyarakat. ” Paling utama ditumbuhkan kesadaran seluruh anggota keluarga masing-masing rumah tangga harus mempunyai kesadaran membuang sampah ditempatnya, ” tegasnya.

Letkol (Inf) Nuri Wahyudi menghimbau jangan sampai daerah kita jadikan tempat sampah atau anggap bumi ini tempat sampah besar. Harus dibangunkan kesadaran individu dari terkecil agar tertib membuang sampah. ” Jadi sampah itu harus di buang di tempat semestinya. Bukan, dialiran ataupun bantaran sungai, bukan di got-got dan sebagainya, ” tegasnya


Sekitar 500 dump truck diparkir memblokade jalan raya Soekarno-Hatta, tembus ujung Desa Tepus, Ngasem Kediri hingga bundaran SLG. 
Bahkan ribuan penambang pasir tradisional sekitar lereng Gunung Kelud juga merangsek ikut mengepung kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kediri. Mereka menuntut agar 3 sopir dump truck yang tahan oleh Polres Kediri dibebaskan.
Dalam orasinya Koordiantor Aksi Tubagus Fitrajaya menyerukan, ratusan sopir dump truck pengangkut pasir bersama kuli pasir menuntut kepada DPRD Kabupaten Kediri untuk membebaskan sopir damp truck yang ditangkap polisi saat mengangkut pasir. “Lima sopir teman kami telah ditilang pada saat razia lalu lintas, dump truck beserta sopir diamankan. Polisi menjerat mereka dengan pelanggaran Undang-Undang Minerba, ” katanya, Senen (10/2/2020)
Namun, dari 5 sopir tersebut yang  2 sopir dilepas karena sudah memiliki payung hukum. Sedangkan 3 sopir beserta dump trucknya masih ditahan, dengan alasan ilegal.
Terkait nasib 3 rekanya sopir yang masih ditahan polisi itu,Tubagus meminta 1.800 orang penambang pasir tradisional itu juga meminta payung hukum. Karena nasib mereka terancam oleh penambang mekanik yang menggunakan alat berat untuk menambang pasir di Kali Nobo Kecamatan Plosoklaten. ” Kami ingin memiliki payung hukum, sehingga kami para penambang pasir tradisional bisa bekerja dengan aman dan tenang. Selama ini kami tidak bisa tenang dalam bekerja karena dibenturkan dengan Undang-Undang minerba,  “keluhnya.
Ketua DPRD Kabaputen Kediri Dodi Purwanto, SE langsung tanggap situasi dan turun mendekati ratusan pengunjuk rasa yang semakin memanas.

Sesaat setelah dialog dengan pengunjuk rasa, Dodi Purwanto bersama Camat Plosoklaten yang diikuti oleh para Kepala Desanya langsung meluncur ke Polres Kediri di Pare untuk melakukan komunikasi dengan Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono. Hasilnya ketiga sopir dan dump truck  langsung dibebaskan tanpa syarat.

Setelah mendengar ketiga temannya sudah dibebaskan Kapolres Kediri. Ratusan supir dan penambang pasir membubarkan diri dan bekerja beraktifitas seperti biasa.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *